DOA DAN MUNAJAT MISYARI EL EFFASI
Rabu, 19 Mei 2010
Sabtu, 15 Mei 2010
Jumaat, 14 Mei 2010
Kenali Warosatul Anbiya'....

Al Habib Zainal Abidin bin Ibrahim bin Smith al-Alawi al-Husaini
Assalamualaikum Wr Wb
Audzubilaahi minasyaytoni rajiim “ Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk”.
Bismillahi Rohmanirohim “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
Beliau adalah seorang ulama Sunni terkenal dan tinggal di Madinah Arab Saudi. Beliau di lahirkan di Jakarta pada tahun 1357 H/1936 M dan Ayahnya bernama Habib Ibrahim yang menjadi ulama besar betawi. Habib Zain tinggal dalam lingkungan religius, sedari kecil dia berada dalam lingkungan religius dengan didikan habib Ibrahim (Abi nya)….dari sini, jamak jika beliau dari kecil sudah mengenal agama dengan baik, baik ilmu pengetahuan maupun amaliah sehari hari.
Habib Zain mengais ilmu dari ulama-ulama betawi, diantaranya Habib Alwi bi Muhammad Al Haddar yang menjadi guru pertamanya. Selain itu beliau juga berguru kepada Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi (Kwitang). Pada saat beranjak usia 14 tahun beliau dikirim oleh Ayahnya Habib Ibrahim ke Hadramaut,Tarim.di bumi Awliya’ itu Habib Zain tinggal di rumahnya.
Beliau mengkhususkan belajar di Ribath Tarim, di sinilah beliau memperdalam ilmu agama,antara lain mengaji kitab ringkasan (mukhtashar) dalam bidang fikih kepada Habib Muhammad Bin Salim bin Hafidz. Di bawah asuhannya,Habib Zein berhasil menghapalkan kitab fikih buah karya imam ruslan,”Zubad”, dan “Al-Irsyad” karya asy-Syarraf ibn al-Muqri, serta kitab “Al-Manhaj” yang disusun oleh Habib Muhammad sendiri,menghapal bait-bait (nazham) “Hadiyyah as-Shadiq” karya Habib Abdullah bin Husain bin Thahir dan lainnya.
Di Tarim beliau sempat berguru kepada sejumlah ulama besar,seperti : Habib Umar bin Alwi Al-kaf, Syekh Salim Sa’id Bukhayyir Bagistan, Habib Salim bin Alwi Al-Khird, Syekh Fadhl bin Muhammad Bafadhl, Habib Abdurrahman bin Hamid As-Sirri, Habib Ja’far bin Ahmad Al-Aydrus,Habib Ibrahim bin Umar bin Agil dan Habib Abubakar Al-Atthas bin Abdullah Al Habsy.
Habib Zain banyak mendatangi majlis para ulama demi mendapat ijasah,semisal :
1. habib Muhammad bin hadi assegaf, habib ahmad bin musa al habsy,
2. habib alwi bin abbas al maliki al makki,
3. habib umar bin ahmad bin sumaith,
4. habib ahmad masyhur bin thaha al haddad,
5. habib abdul qodir bin ahmad assegaf, dan
6. habib Muhammad bin ahmad as Syatiri.
Salah seorang gurunya Habib Muhammad bin salim bin hafidz menyarankan beliau untuk pindah ke kota Baidhah, salah satu wilayah pelosok bagian negeri Yaman, untuk mengajar di ribath disana sekaligus berdakwah. Ini dilakukan menyusul permohonan mufti Baidhah, Habib Muhammad bin Abdullah al Haddar. Tinggal selama 20 tahun di Baidhah, habib zain memutuskan pindah ke negeri Hijaz (Tanah Suci), karena tak mampu menolak permintaan sayyid Abdurrahman bin hasan Al-jufri untuk membuka ribath di kota Madinah.maka, pada bulan ramadhan 1406 H, habib zain pun hijrah ke kota nabawi itu. Bersama habib salim bin Abdullah as Syatiri, beliau curahkan segenap waktu, tenaga dan pikiran demi besarnya ribath yang di beri nama “ Al-Jufri “.
Di kota suci kedua umat islam tersebut beliau belajar kepada beberapa ulama, diantaranya :
1. Syekh Zaidan as Syanqithi al Maliki,
2. Al alamah Ahmaddu bin Muhammad Hamid al Hasani as Syanqithi
Banyak ulama yang memuji tentang kealiman Habib Zain, salah satunya Sayyid Abubakar bin Ali al Masyhur dalam kitabnya “ Qabasat an Nur” hal 189, bahwa habib zain di gambarkannya sebagai seorang alim yang faqih, seorang yang sangat hafal persoalan-persoalan dalam madzhab Syafi’i, ahli Nahwu, seorang yang terlibat dalam berbagai ilmu, seorang Al-Arif Billah (orang yang sangat mengenal Allah), dan menjadi rujukan dalam fiqih dan fatwa di negeri Hijaz.
Dalam kitabnya “ Al-Ajwibah al-Ghaliyah fi’Aqidah al-firqah an-Najiyah” habib zain banyak mengulas tentang Akidah Ahlussunah Wal Jamaah, yang berisi tentang jawaban atas amaliyah golongan Ahlussunah Wal Jamaah yang selama ini dianggap oleh sebagian kelompok kecil umat islam sebagai amalan yang menyimpang, padahal amaliyah tersebut telah dilakukan oleh generasi terdahulu, yaitu generasi sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in dan terus hingga sekarang.
Diantara isinya membahas mengenai bebagai persoalan tanya jawab, yaitu :
• Mengenai mengenal Allah, hak Allah atas setiap Hambanya, sifat2 Allah yang wajib di sembah, Siapa yang mengenal dirinya maka dia mengenal Allah, pengaruh kekuasaan Allah SWT.
• Mengenal Rasululloh, Keistimewaan nabi Muhammad SAW, Mukjizat Nabi Muhammad, Sifat Fisik Rasululloh, Sifat perangai nabi Muhammad SAW, Hak2 Rasululloh atas umatnya, keharusan mengikuti Jamaah Umat Islam dan Ulama Salafus Shaleh.
• Bid’ah dan pembagiannya, sifat golongan ahli bid’ah, larangan mengkafirkan orang islam, hakekat ibadah, pengukuhan syafaat.
• Mengambil berkah dengan jejak orang-orang baik, Tawassul, Mohon pertolongan ( istighatsah), kehidupan para nabi, Ziarah kekuburan, orang yang telah meninggal dapat merasa dan mendengar, bacaan al-Qur’an untuk orang yang sudah meninggal, hokum menyentuh dan memeluk kuburan, me-lepa kuburan dan mendirikan bangunan diatasnya, pengajaran (Talqin) kepada mayat, menyembelih binatang di dekat kuburan para wali dan menyuguhkan Nadzar kepada orang sekitarnya.
• Hukum sumpah dengan selain Allah, Kharisma (Keramat) para Wali Allah, Kemungkina melihat Rasululloh dalam keadaan sadar, Kehidupan Khaidir Alaihis Salam.
• Berobat dengan Al-Qur’an dan Asma Allah, Pesta merayakan Maulid Nabi, Dzikir dan Majelis2 Dzikir.
• Kesepakatan (Kafa’ah) dalam pernikahan, Anjuran mencintai Ahlul Bait Rasululloh SAW, larangan membenci dan menyakiti Ahlul Bait, Keutamaan Ahlul Bait Rasululloh SAW.
• Tawassul dengan membaca Sayyidina.
• Penyimpangan Akidah Syi’ah, dan Nikah Mut’ah dalam islam.
Penjabaran dari tiap2 topik di atas akan di tulis dalam bentuk note,semoga bermanfaat…..
wassalammualaikum warohmatullah wabarokatuh....
Khamis, 13 Mei 2010
Luasnya Neraka Allah...
YA ALLAH YA RAHMAN YA RAHIM, lindunglilah dan peliharakanlah kami,kedua ibubapa kami, isteri kami, anak-anak kami, kaum keluarga kami &semua orang Islam dari azab seksa api nerakaMu YA ALLAH.
Sesungguhnya kami tidak layak untuk menduduki syurgaMu YA ALLAH,namun tidak pula kami sanggup untuk ke nerakaMu YA ALLAH.
Ampunilah dosa-dosa kami, terimalah taubat kami dan terimalahsegala ibadah dan amalan kami dengan RAHMATMU YA ALLAH......AMIN.....
.: Luasnya Neraka :.
Yazid Arraqqasyi dari Anas bin Malik ra. berkata: Jibrail datangkepada Nabi saw pada waktu yg ia tidak biasa datang dalam keadaanberubah mukanya, maka ditanya oleh nabi s.a.w.: "Mengapa aku melihat kau berubah muka?"
Jawabnya: "Ya Muhammad, akudatang kepadamu di saat Allah menyuruh supaya dikobarkan penyalaan api neraka, maka tidak layak bagi orangyg mengetahui bahawa neraka Jahannam itu benar, dan siksa kubur itubenar, dan siksa Allah itu terbesar untuk bersuka-suka sebelum ia merasaaman dari padanya."
Lalu nabi s.a.w. bersabda: "Ya Jibrail, jelaskan padaku sifatJahannam."
Jawabnya: "Ya. Ketika Allah menjadikan Jahannam, maka dinyalakanselama seribu tahun, sehingga merah, kemudian dilanjutkan seribu tahunsehingga putih, kemudian seribu tahun sehingga hitam, maka ia hitamgelap, tidak pernah padam nyala dan baranya. Demi Allah yg mengutusengkau dengan hak, andaikan terbuka sebesar lubang jarum nescaya akan dapat membakarpenduduk dunia semuanya kerana panasnya. Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan satu baju ahlineraka itu digantung di antara langit dan bumi nescaya akan matipenduduk bumi kerana panas dan basinya. Demi Allah yg mengutus engkaudengan hak, andaikan satu pergelangan dari rantai yg disebut dalamAl-Quran itu diletakkan di atas bukit, nescaya akan cair sampai ke bawahbumi yg ke tujuh. Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan seorang dihujung barat tersiksa, nescaya akan terbakar orang-orang yang di hujungtimur kerana sangat panasnya, Jahannam itu sangat dalam dan perhiasannya besi,dan minumannya air panas campur nanah, dan pakaiannya potongan-potonganapi. Api neraka itu ada tujuh pintu, tiap-tiap pintu ada bahagiannyayang tertentu dari orang laki-laki dan perempuan."
Nabi s.a.w. bertanya: "Apakah pintu-pintunya bagaikan pintu-pinturumah kami?"
Jawabnya: "Tidak, tetapi selalu terbuka, setengahnya dibawah dari lainnya, dari pintu ke pintu jarak perjalanan 70,000 tahun,tiap pintu lebih panas dari yang lain 70 kali ganda." (nota kefahaman:iaitu yg lebih bawah lebih panas)
Tanya Rasulullah s.a.w.: "Siapakah penduduk masing-masing pintu?"
Jawab Jibrail: "Pintu yg terbawah untuk orang-orang munafik, dan orang-orang ygkafir setelah diturunkan hidangan mukjizat nabi Isa a.s. serta keluarga Fir'aun sedang namanya Al-Hawiyah.
Pintu kedua tempat orang-orang musyrikin bernama Jahim,
Pintu ketiga tempat orang shobi'in bernama Saqar.
Pintu ke empat tempat Iblis dan pengikutnya dari kaum majusibernama Ladha,
Pintu kelima orang yahudi bernama Huthomah.
Pintu ke enam tempat orang nasara bernama Sa'eir."
Kemudian Jibrail diam segan pada Rasulullah s.a.w. sehingga ditanya: "Mengapa tidak kau terangkan penduduk pintu ke tujuh?"
Jawabnya: "Di dalamnya orang-orang yg berdosa besar dari ummatmu yg sampai mati belum sempat bertaubat." Maka nabi s.a.w. jatuh pingsan ketika mendengar keterangan itu,sehingga Jibrail meletakkan kepala nabi s.a.w. di pangkuannya sehingga sedar kembali dan sesudah sedar
nabi saw bersabda: "Ya Jibrail, sungguh besar kerisauanku dan sangat sedihku, apakah ada seorang dari ummat kuyang akan masuk ke dalam neraka?" Jawabnya: "Ya, iaitu orang yg berdosa besar dari ummatmu."
Kemudian nabi s.a.w. menangis, Jibrail juga menangis, kemudian nabi s.a.w. masuk ke dalam rumahnya dan tidak keluar kecuali untuk sembahyangkemudian kembali dan tidak berbicara dengan orang dan bila sembahyang selalu menangis dan minta kepada Allah. (dipetik dari kitab "PeringatanBagi Yg Lalai")
Dari Hadith Qudsi: Bagaimana kamu masih boleh melakukan maksiatsedangkan kamu tak dapat bertahan dengan panasnya terik matahari Ku. Tahukah kamu bahawa neraka jahanamKu itu:
1. Neraka Jahanam itu mempunyai 7 tingkat
2. Setiap tingkat mempunyai 70,000 daerah
3. Setiap daerah mempunyai 70,000 kampung
4. Setiap kampung mempunyai 70,000 rumah
5. Setiap rumah mempunyai 70,000 bilik
6. Setiap bilik mempunyai 70,000 kotak
7. Setiap kotak mempunyai 70,000 batang pokok zarqum
8. Di bawah setiap pokok zarqum mempunyai 70,000 ekor ular
9. Di dalam mulut setiap ular yang panjang 70 hasta mengandungi lautan racun yang hitam pekat.
10. Juga di bawah setiap pokok zarqum mempunyai 70,000 rantai
11. Setiap rantai diseret oleh 70,000 malaikat
Mudah-mudahan dapat menimbulkan keinsafan kepada kitasemua. Wallahua'lam.
Al-Quran Surah Al- Baqarah Ayat 159 Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan dari keterangan-keterangan dan petunjuk hidayat, sesudah Kamiterangkannya kepada manusia di dalam Kitab Suci, mereka itu dilaknat oleh Allah dan dilaknat oleh sekalian makhluk.
Hukum Tawassul...
Tawassul dan istighatsah adalah amalan para ulama kita Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Tidak ada ulama Sunni yang menentang amalan bertawassul dan beristighatsah dengan Junjungan Nabi s.a.w. dan para sholihin, sama ada sewaktu hayat mereka maupun setelah wafat. Yang menentang hanyalah mereka yang suka benar sendiri dan menghukum orang lain sebagai sesat, bid'ah dan sebagainya. Dan antara sandaran mereka untuk menghalang dari bertawassul dan beristighasah dengan para anbiya' dan awliya' yang telah wafat adalah atsar Sayyidina 'Umar bertawassul dengan Sayyidina 'Abbas r.a. Dengan bangganya mereka mendakwa bahawa "Inilah bukti yang kita tidak boleh bertawassul dengan orang yang telah mati". Benarkah begitu?
Antara ulama kita yang masih berada di dunia yang fana ini, semoga Allah memanjang dan memberkati usia beliau, adalah al-'Allaamah al-Faqiih al-Habib Zain bin Ibrahim BinSumaith. Dalam karyanya yang berbentuk soal-jawab yang berjodol "al-Ajwibah al-Ghaaliyah", beliau (hafizahUllah) menjelaskan berhubung persoalan ini. Pada halaman 77 - 79, beliau menulis:-
S: Jika bertawassul dengan orang-orang yang telah meninggal itu hukumnya jaiz (harus), maka kenapakah Khalifah 'Umar bin al-Khaththab bertawassul dengan Sayyidina 'Abbas dan bukannya dengan Junjungan Nabi s.a.w.?
J: Telah menjawab para ulama : Adapun tawassul Sayyidina 'Umar r.a. dengan Sayyidina 'Abbas r.a. bukanlah dalil yang menunjukkan ketidakharusan bertawassul dengan orang yang telah wafat meninggal dunia. Bahawasanya tawassul Sayyidina 'Umar dengan Sayyidina 'Abbas dan bukannya dengan Junjungan Nabi s.a.w. adalah untuk menjelaskan kepada manusia bahawa tawassul dengan selain Junjungan Nabi s.a.w. adalah harus yakni boleh (jaiz) dan tidak apa-apa (yakni tidak berdosa). Dan dikhas bertawassul dengan Sayyidina 'Abbas r.a. daripada sekalian sahabat adalah untuk menzahirkan kemuliaan keluarga Junjungan Rasulullah s.a.w.
S: Apakah dalilnya bagi yang sedemikian?
J: Dalil bagi yang sedemikian adalah bahawasanya telah sabit tawassul sahabat dengan Junjungan Nabi s.a.w. selepas baginda wafat. Antaranya, apa yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shohih: "Sesungguhnya manusia menghadapi kemarau pada zaman pemerintahan Sayyidina 'Umar r.a., lalu Sayyidina Bilal bin al-Haarits r.a. mendatangi (menziarahi) makam Junjungan Nabi s.a.w. seraya berkata: "Ya RasulAllah, mohonlah hujan bagi umatmu kerana mereka menuju kebinasaan (yakni akibat kemarau tersebut)." Setelah itu, Sayyidina Bilal bin al-Haarits telah bermimpi didatangi Junjungan Nabi s.a.w. dan baginda bersabda kepadanya: "Pergilah kepada 'Umar bin al-Khaththab, sampaikan salamku dan maklumkanlah bahawa mereka akan mendapat hujan." Sayyidina Bilal bin al-Harits pun pergi berjumpa dengan Sayyidina 'Umar dan menyampaikan salam dan pesanan Junjungan Nabi s.a.w. tersebut, lalu menangislah Sayyidina 'Umar r.a. dan mereka pun mendapat hujan."
S: Bagaimanakah hadits tersebut dapat dijadikan dalil?
J: Dalilnya adalah pada perbuatan Sayyidina Bilal tersebut yang merupakan seorang sahabat dan pada sikap Sayyidina 'Umar serta lain-lain sahabat yang tidak mengingkari perbuatan tersebut (yakni jikalah perbuatan Sayyidina Bilal untuk beristighatsah kepada Junjungan Nabi s.a.w. itu satu kesalahan, maka pasti Sayyidina 'Umar dan para sahabat yang lain akan mengingkarinya). Dan antara dalil lain adalah apa yang dikeluarkan oleh ad-Darimi: " Penduduk Kota Madinah telah menghadapi kemarau teruk, lalu mereka mengadu kepada Sayyidatina 'Aisyah r.'anha. Ummul Mu'minin Sayyidatina 'Aisyah berkata kepada mereka: (Pergilah) lihat kubur Nabi s.a.w. dan buatkanlah satu lubang atasnya yang tembus ke langit sehingga tidak ada atap (naungan) di antara kubur tersebut dengan langit. Maka mereka pun melakukannya, lalu turunlah hujan lebat sehingga tumbuh - tumbuhan hidup dengan subur dan unta-unta menjadi gemuk sehingga kulitnya seakan-akan pecah kerana lemak, maka dinamakan tahun tersebut "aamul fatqah" (tahun pecah-pecah (yakni melambangkan kesuburan kerana kulit unta-unta tersebut seolah-olah pecah-pecah kerana terlalu gemuk)."
KESIMPULAN: Bahawsanya bertawassul itu adalah harus (jaiz / mubah) , sama ada dengan amal-amal sholih ataupun dengan pelaku-pelaku amal sholih tersebvt iaitu para sholihin, sama ada dengan mereka-mereka yang masih hidu p ataupun yang sudah wafat meninggal dunia. Bahkan perbuatan bertawassul ini telah berlaku atas setiap keadaan hatta sebelum penciptaan Junjungan Nabi s.a.w. (yakni sebagaimana terjadinya tawassul Nabi Adam a.s. dengan Junjungan Nabi s.a.w. sebelum Baginda Nabi s.a.w. dilahirkan).
Rabu, 12 Mei 2010
Fitnah Ke Atas Al Habasyi
MENJAWAB TUDUHAN PALSU&KHIANAT YANG DILEMPARKAN KE ATAS SYEIKH AL-MUHADDITH IMAM ABDULLAH AL-HARARI
Alhamdulillah, Wassolatu Wassalam ‘ Ala Rasulillah.
Awwalan, saya mengharapkan sesiapa yang membaca tulisan ini agar menghadirkan keikhlasan dalam diri bertujuan menegakkan kebenaran dan bukan mencari pertelingkahan buruk juga fitnah yang tidak henti-henti. Diharap agar para pembaca mengfokuskan pada setiap tulisan dan jawapan serta mengkaji dan menilai ianya dengan penuh amanah dan jujur.
Keduanya, untuk makluman pembaca, saya akan nukilkan tuduhan-tuduhan terhadap Syeikh Abdullah Al-Harari dari tulisan si penuduh sendiri pada beberapa helaian kertas yang kini ianya ada pada tangan saya ( bukan website atau majalah ) tanpa mengubahnya, kemudian saya akan menjawab tuduhan-tuduhan palsu tersebut secara ilmiah bersumber dari rujukan kitab Syeikh Abdullah Al-Harari sendiri.
Disini juga saya menasihatkan diri saya dan para pembaca bahawa wajib ke atas kita mempelajari ilmu agama dari para ilmuan yang thiqah dan amanah lagi adil agar ilmu yang kita sampaikan jua diberkati Ilahi.
Sabda junjungan besar kita Nabi Muhammad:
” يحمل هذا العلم من كل خلف عدوله ينفون عنه تحريف الغالين وانتحال المبطلين و تأويل الجاهلين”.
Jawapan Ilmiah Ke Atas Tuduhan Palsu Terhadap Syeikh Al-Muhaddith Abdullah Al-Harari Al-Habasyi.
Kenyataan Penuduh ( 1 ):
“ Al-Habasyi mendakwa bahawa Jibril yang mengungkapkan lafaz-lafaz al-Quran dan bukan Allah. Maka al-Quran menurut dakwaan mereka adalah bukan kalam Allah tetapi merupakan ibarat daripada kalam Jibril sebagaimana termaktub dalam kitab al-Habasyi
Izhar al-Aqidah al-Sunniyah hal. 591”.
Mari kita rungkaikan ayat penuduh di atas dan menjawabnya secara ilmiah ;-
1- Penuduh memfitnah kononnya Syeikh Al-Habasyi mendakwa al-Quran bukan kalam Allah.
2- Penuduh memfitnah kononnya Syeikh Al-Habasyi dan anak-anak murid beliau mendakwa al-Quran adalah ibarat daripada kalam Jibril.
3- Penuduh mendakwa kesemua kenyataan tersebut di atas termaktub dalam kitab Syeikh Al-Habasyi berjudul Izhar al-Aqidah al-Sunniyyah pada halama 591.
Jawapan ilmiah ( 1 ) :
Setelah mengkaji kitab-kitab Syeikh Al-Habasyi termasuk kitab Izhar al-Aqidah al-Sunniyyah pada setiap halaman didapati tiada satupun kenyataan seperti yang dituduh dalam mana-mana karangan Syeikh Al-Habasyi sama ada secara lafaz ataupun makna.
Tetapi yang wujud amat berbeza dengan apa yang dituduh, yang pastinya kenyataan Syeikh Al-Habasyi bahawa al-Quran adalah Kalam Allah banyak terdapat dalam kitab karangan beliau dan ini teks-teksnya:-
1-
” فقول المؤلف ( الامام الطحاوي ) و ان القرءان كلام الله منه بدا بلا كيفة قولا معناه أن القرءان من الله بدا أي
ظهرأي انزالا على نبيه “.
Erti: “ Kenyataan Imam At-Tohawi : ‘ al-Quran itu merupakan Kalam Allah daripadaNya bada kata-kata tanpa berbentuk’ maknanya al-Quran itu daripada Allah bada iaitu terbit bererti diturunkan ke atas nabiNya ”.
2-
” فقولنا القرءان كلام الله “
Erti: “ Maka kenyataan kita al-Quran adalah Kalam Allah ”.
Kedua-dua kenyataan Syeikh Al-Habasyi di atas tadi tertera dalam kitab beliau Izhar al-Aqidah al-Sunniyyah cetakan ketiga Da Al-Masyari’ tahun 1417H-1997M pada halaman 83.
Ini membuktikan bahawa dakwaan si penuduh adalah dusta.
Begitu juga di dalam kitab Syeikh Al-Habasyi berjudul Bughyah Tolib cetakan ketiga Dar Al-Masyari’ tahun 1416H-1996M pada halam 18 tertera kenyataan Syeikh yang amat bercanggah dengan apa yang difitnah oleh si penuduh dan ini dia teks Syeikh Al-Habasyi:-
Teks Syeikh Al-Habasyi (1) : -
“القرءان والتوراة والإنجيل والزبور وسائر كتب الله إن قصد بها الكلام الذاتي فهي أزلية ليس بحرف ولا صوت وإن قصد بها اللفظ المنزل الذي بعضه بلغة العرب وبعضه بالعبرانية وبعضه بالسُّريانية فهو حادث مخلوق لله لكنها ليست من تصنيف ملَك ولا بشر”.
Erti: “ al-Quran, Taurat, Injil Zabur dan seluruh kitab-kitab Allah, sekiranya semua itu dimaksudkan dengan Kalam Allah Yang Zatiy (sifat Kalam Allah) maka ianya adalah azali tiada permulaan dan bukan berhuruf dan tidak juga dengan suara, dan sekiranya di maksudkan semua itu dengan Lafaz al-Munazzal (lafaz yang diturunkan) yang mana sebahagiannya berbahasa Arab,Ibraniyah dan Suryaniyah maka ianya adalah ciptaan Allah tetapi perlu diingatkan bahawa (al-Quran, Taurat, Injil, Zabur dan seluruh kitab Allah) bukanlah dari karangan mana-mana malaikat dan bukan juga karangan manusia”.
2-Teks Syeikh Al-Habasyi (2) : -
فهي عبارات عن الكلام الذاتي الذي لا يوصف بأنه عربي ولا بأنه عبراني ولا بأنه سرياني وكلٌّ يطلق عليه كلام الله”
Erti: Lafaz al-Munazzal itu adalah menunjukkan kalam Allah Yang Zatiy ( sifat Kalam Allah ) yang mana sifat Kalam bagi Allah itu tidak harus dikatakan sebagai bahasa Arab atau bahasa Ibrani atau bahasa Suryani dan ketahuilah bahawa kedua-duanya adalah kalam Allah.
Kenyataan Syeikh Al-Harari tersebut amat jelas beliau beraqidah bahawa al-Quran itu adalah kalam Allah, tidak kiralah apa yang hendak dimaksudkan samaada sifat kalam Allah ataupun Lafaz al-Munazzal, al-Quran tetap kalam Allah.
Berkata Syeikh Al-Muhadditn Al-Harari Al-Habasyi lagi pada hal ini seperti termaktub dalam kitab beliau berjudul Syarhul Qawim Fi Halli Alfaz Sirotul Mustaqim cetakan pertama Dar Masyari’ tahun 1419H-1999M halaman 128 teksnya:
“صفة الكلام القائمة بذات الله تعالى يقال لها كلام الله واللفظ المنزل الذي هو عبارة عنه يقال له كلام الله والإطلاقان من باب الحقيقة”
Erti: “ Sesungguhnya sifat kalam bagi zat Allah ta’ala dinamakan sebagai Kalam Allah dan begitu juga Lafaz al-Munazzal yang menunjukkan kepada sifat kalam Allah dinamakan sebagai Kalam Allah, sandaran kedua-dua itu sebagai Kalam Allah adalah
dari segi hakikat kebenaran”.
Kenyataan di atas merupakan pembuktian bahwa dakwaan penuduh kononnya Syeikh Al-Habasyi dan anak-anak murid beliau mendakwa al-Quran adalah ibarat daripada kalam Jibril (rujuk tuduhan nom 2) merupakan tuduhan yang palsu kerana amat jelas Syeikh Al-Habasyi mengatakan al-Quran itu juga adalah ibarat yang menunjukkan kepada Kalam Allah dan bukan kalam Jibril.
Pada kehematan para pengkaji pastinya amat jelas pendirian dan pegangan Syeikh Al-Habasyi mengenai al-Quran dan bukanlah seperti yang dituduh.
Sekali lagi saya memohon kepada sesiapa yang menuduh dan memfitnah Syeikh Al-Habasyi agar membawa teks asal dari kitab Syeikh sendiri dan bukan dari orang ketiga yang tiada amanah.
* Perkara yang amat memalukan si penuduh adalah apabila penuduh mendakwa kononnya kenyataan Syeikh Al-Habasyi termaktub dalam kitabnya berjudul Izhar al-Aqidah al-Sunniyyah pada halaman 591. Apabila di lihat kesemua cetakan pada buku tersebut tidak adapun sampai halaman 500, bagaimana pula boleh wujud halaman 591?!.
Siapa yang mewahyukan kepada si penuduh?! Ruh Muhammad Bin Abdullah Wahhab ke yang bangkit dari kubur datang memwahyukan kepada si penuduh?! atau kasyaf automatical dari si penuduh sendiri?!.
Sebenarnya halaman kesemua kitab tersebut hanya sampai kepada 371 atau 380 halaman mengikut cetakan-cetakan yang berbeza dan tidak wujud halaman 591!.
Pembaca sekalian, tuduhan palsu itu sebenarnya satu fitnah berbodyguardkan hasad dan dengki terhadap ulama Islam Syeikh Abdullah Al-Harari Al-Habasyi.
Busuk sungguh hati si penuduh terhadap ulama Islam. Lagilah tuduhan tanpa bukti itu pada perkara aqidah.
Ini berbeza dengan tindakan ulama Islam apabila menolak fahaman sesat seperti Syiah & Wahhabi, mereka akan menyatakan secara jelas dan terang dinukilkan secara fakta dan dinilai secara ilmiah tanpa tuduhan dan fitnah walaupun terhadap musuh Islam sendiri.
Amat jelas akibat buruk apabila seseorang itu tidak memahami ilmu aqidah khususnya permasalahan sifat Kalam bagi Allah.
Mereka akan semborono menuduh ulama tanpa memahami perbincangan ulama secara displin ilmu dan jujur.
Ketahuilah antara aqidah Islam adalah Allah ta’ala bersifat Kalam ( berkata-kata ) tanpa huruf dan tanpa suara, manakala kita manusia berbicara dan bercakap mengunakan huruf dan suara. Inilah yang dinyatakan oleh seluruh ulama Islam antaranya Imam Abu Hanifah di dalam kitabnya berjudul Fiqhul Absot :
“ويتكلم لا ككلامنا نحن نتكلم بالآلات من المخارج والحروف والله متكلم بلا ءالة ولا حرف”
Bermaksud: : “ Dan (Allah) berkata-kata tidak seperti kita (manusia) berkata-kata, kita bercakap mengunakan alat-alat dari tempat keluar huruf dan dengan huruf, Allah pula berkata-kata tanpa mengunakan apa-apa alat dan tanpa huruf ”.
Alhamdulillah kerana aqidah kami, Syeikh Abdullah Al-Harari, Imam Abu Hanifah dan seluruh ulama Islam yang lain adalah sama.
* Wa akhiran,
dalam menjawab tuduhan ( 1 ) perlu direnung beberapa perkara.
Yang sepatutnya dilakukan oleh si penuduh dalam hal ini adalah mengawasi orang awam daripada berpegang dengan aqidah Wahhabi
kerana Wahhabi beraqidah salah:
(Allah bersifat kalam dan sifat kalam Allah adalah dengan berhuruf dan suara yang berbeza-beza berlaku pada zat Allah sesuatu yang baharu dan ada kalanya Kalam Allah itu terputus-putus kemudian ada semula kemudian terputus-putus).
Lihat kitab Wahhabi berjudul Kawasyhiful Jaliyah ‘Ala Ma’ani Al-Wasitiyah mukasurat 220 dan kitab Wahhabi Najatul Khalf halaman 25.
Begitu juga Wahhabi memalsukan kitab As-Sunnah dan menyatakan aqidah mereka pada kitab tersebut m/s 77 (terjemahan teks Wahhabi): “ Allah berkata-kata dengan nabi Musa, dan sifat kalam Allah menggunakan mulut Allah, dan peristiwa penyerahan kitab Taurat berlaku dengan tanganNya ke tangan Musa ”.
Adakah Wahhabi hendak samakan Allah dengan bos yang memberi watikah kepada anak buahnya seperti Wahhabi mendakwa Allah lendik duduk atas arasy?!!
Maha suci Allah daripada kata-kata pelampau agama.
Mentahzir dan berjaga-jaga dengan aqidah sesat Wahhabi…inilah yang sepatutnya dilakukan oleh kita dan si penuduh jua. Bukannya memfitnah dengan menuduhkan tuduhan-tuduhan palsu tanpa bukti lagi khianat.
Akan bersambung pada menjawab tuduhan seterusnya…
Allahu Subhanahu Wata’ala A’la Wa A’lam.
Al Habasyi

Nama dan Tempat Lahirnya:
Beliau adalah seorang yang alim, al-‘Allamah al-Muhaddis, pakar dalam ilmu fekah, dan kuat berhujah menentang golongan-golongan yang terpesong dari landasan Ahlus Sunnah Wal Jamaah, seorang yang zuhud dan bertaqwa, namanya ialah Abdullah bin Muhammad bin Yusuf bin Abdullah bin Jamei’, berasal dari Harar , berketurunan asy-Syaibi dan al-Abdary beliau juga merupakan Mufti Harar [dilantik menjadi mufti sebelum berumur 18 tahun].
Dilahirkan di bandar Harar pada tahun 1910 bersamaan 1328 Hijrah (beliau lahir lebih awal dari pada tahun yang tercatat, yang tercatat hanyalah yang tertera pada pendaftaran lama).
Pembesaran dan perjalanan hidup beliau:
Beliau telah dibesarkan di rumah yang penuh dengan kasih sayang pada ilmu agama. Beliau telah menghafal al Quran ketika berumur 7 tahun. Ayah beliau telah membacakan ke atasnya kitab al Muqaddimah al-Hadhramiah dan kitab al-Mukhtasar as-Saghir dalam ilmu fekah yang mana kitab tersebut amat mashyur di kawasannya.
Kemudian beliau mula menghafaz dari pelbagai matan-matan ilmu agama yang lain, kecenderungannya untuk mendalami ilmu hadis telah membuatkan beliau menghafal kitab-kitab hadis yang enam [سنن ستة] dan selainnya berserta dengan sanad-sanadnya sekali sehinggakan beliau telah diijazahkan meriwayat hadis-hadis nabi j ketika beliau kurang dari umur 18 tahun.
Tidak cukup dengan ulama di negaranya bahkan dia telah merantau keseluruh pelusuk Habsyah dan Somalia untuk menuntut ilmu dan mendengarnya daripada ulama setempat, oleh itu Syeikh Abdullah sanggup merintangi kesusahan dan kepayahan bahkan sekiranya dia mendengar ada orang alim disesuatu tempat maka dia akan bersegera pergi kepadanya seperti mana yang dilakukan ulama salafussolih yang terdahulu. Kehebatan, ketajaman fikiran dan kekuatan hafazannya yang hebat selain kemampuannya mendalami ilmu fekah Syafii dan usulnya dan mengetahui sudut khilaf dalam mazhab beliau juga sangat arif pendapat yang terdapat dalam mazhab Maliki, Hanafi dan Hanbali hinggakan beliau akan menjadi tempat rujukan ke mana sahaja beliau pergi, beliau juga diminta untuk mengeluarkan fatwa di bandarnya Harar dan sekitarnya.
Beliau telah mempelajari ilmu fekah Syafii dan ilmu usulnya dan juga ilmu nahu dan kitab-kitab yang lain antaranya seperti Alfiah Zubad, Kitab Tanbih, Minhaj, Alfiah bin Malik, al-Luma’ as-Syirazi dan banyak lagi dari Syeikh Muhammad Abdul Salam al-Harary, Syeikh Muhammad Omar Jamei’ al-Harary, Syeikh Muhammad Rasyad al-Habasyi, Syeikh Ibrahim Abil Gaish al-Harary, Syeikh Yunus al-Habasyi dan Syeikh Muhammad Siraj al-Jabruty.
Manakala dalam ilmu bahasa arab beliau telah mengambilnya daripada Syeikh as-Soleh Ahmad al-Basir, Syeikh Ahmad bin Muhammad al-Habasyi dan ulama-ulama lain. Lagi tiga mazhab fekah yang lain dan usulnya beliau telah ambil daripada Syeikh Muhammad al-Araby al-Fasy dan Syeikh Abdur Rahman al-Habasyi.
Dalam ilmu tafsir beliau telah mengambil dari Syeikh Syarif al-Habasyi di bandarnya iaitu Jimmah.
Beliau telah mempelajari ilmu hadis dari as-Syeikh Abu Bakar Muhammad Siraj al-Jabruty Mufti Habsyah dan Syeikh Abdul Rahman bin Abdillah al-Habasyi.
Beliau mempelajari ilmu Qiraat 14 dari dan ilmu Hadis dari gurunya yang alim iaitu Syeikh al-Muhaddis Ahmad Abdul al-Muttalib al-Jabaruty al-Habasyi , beliau adalah ketua guru kepada ahli-ahli ilmu Qiraat di Masjidil Haram di Mekah dan dari Syeikh Daud al-Jabruty al-Qori, Syeikh al-Muqri Mahmud Faiz ad-Dair Atony ilmu qiraat yang tujuh.
Ketika beliau berada di Mekah beliau sempat berkenalan dan bersahabat dengan ulama-ulama Mekah diantaranya ialah Syeikh al-Alim as-Said Alawi al-Maliki, Syeikh Amin al-Kitbi, Syeikh al-Muhaddis Muhammad Yasin al-Padani [berasal dari Padang, Indonesia], Syeikh Muhammad al-Araby at-Tabban, beliau juga pernah mengambil ijazah amalan zikir Tariqat an Naqsyabadiah dari Syeikh Abdul Ghafur al-Afghani An-Naqsyabandi.
Kemudian beliau telah pergi ke Madinah al-Munawwarah di sana beliau sempat belajar ilmu-ilmu hadis dan membaca hadis-hadis nabi dari Syeikh al-Muhaddis Muhammad bin Ali al-Siddiq al-Bakry al-Hindi al-Hanafi dan syeikh tersebut mengijazahkan ilmu hadis kepada beliau. Di sana juga beliau sempat pergi ke Maktabah Arif Hikmat dan Maktabah al-Mahmudiah dan mengkaji ilmu-ilmu di sana, dan di katakan beliau telah menghafaz hampir kesemua kitab di dalam maktabah-maktabah tersebut. Di Madinah juga beliau sempat bertemu dengan seorang ulama hadis iaitu Syeikh al-Muhaddis Ibrahim al-Khattani anak murid kepada seorang ulama yang masyhur iaitu Syeikh al-Muhaddis Abdul Qadir Syalbi. Adapun ijazah-ijazah ilmu agama yang beliau perolehi dari ulama-ulama memang sangat banyak tetapi tidak disebutkan di sini.
Selepas itu beliau menuju ke Baitul Muqaddis dan seterusnya ke dataran Syam yang dulu terkenal dengan seorang ulama yang sangat alim iaitu al Muhaddis Syeikh Badruddin al-Hasani tetapi beliau sudah lama meninggal dunia sebelum kedatangan Syeikh Abdullah al-Harary ke sana. Di sana Syeikh Abdullah al-Harary menjadi rujukan dalam masalah-masalah agama bahkan beliau mengembara ke desa-desa dan ke bandar-bandar di antara Dimashq, Beirut, Himsh, Hamah, Halab dan bandar-bandar yang lain di seluruh pelusuk bumi Syam, kemudian dia menetap di Jamik al-Khuthat di satu tempat yang bernama Khaimuriah di Dimashq dan menyampaikan ilmu-ilmu Islam yang berguna dan bermanfaat dan mengajarkannya berteraskan Manhaj atau metodologi Ahlus Sunnah Wal Jamaah, para masyaikh, alim ulama Syam merujuk kepada Syeikh Abdullah tentang bermacam-macam masalah sehingga mereka mengatakan bahawa Syeikh Abdullah ini adalah pengganti kepada al Muhaddis Syeikh Badruddin al-Hasani dari segi ilmu. Kemudian beliau digelar sebagai "Al-Muhaddis Ad-Diyar Asy-Syamiyyah".
Syeikh Abdullah telah menerima ijazah tariqat al-Rifaeyyah dari Syeikh Abdul Rahman al-Sabsabi al Hamawy dan dari Syeikh Tohir al-Kayaly al-Humsi. Beliau sempat menerima ijazah tariqat al-Qadiriyah dari Syeikh Ahmad al-Arbiny dan dari Syeikh at-Toyyib ad-Dimasyqi.
Pada tahun 1950 bersamaan dengan 1370 hijrah beliau telah pergi ke Beirut dan di sambut oleh ulama-ulama di sana seperti Syeikh Taufiq al-Hibry. Dan pada tahun 1969 bersamaan 1389 beliau diminta oleh Rector al-Azhar cawangan di Lubnan untuk mengajar ilmu akidah di sana.
Sifatnya:
Syeikh Abdullah adalah seorang yang warak, tawadhuk, kuat mengerjakan ibadat, banyak berzikir, sentiasa menggunakan masanya untuk menyampaikan ilmu agama dengan mengajar dan berzikir, seorang yang zuhud sehingga susah untuk melihat beliau dalam satu masa dia tidak menggunakan masanya melainkan menyempurnakan masa tersebut untuk mengajar atau zikir atau membaca atau menyampaikan nasihat. Kuat berpegang dengan Kitab [al-Quran] dan Sunnah, mempunyai ingatan dan kecerdasan akal yang kuat dengan hujah dan dalil yang teguh, sangat adil dalam munghukumkan sesuatu, sentiasa memerangi terhadap siapa sahaja yang melanggar syarak, mempunyai kekuatan dan semangat yang tinggi dalam amal makruf dan nahi munkar hinggakan golongan bidah berhasad dan menfitnahnya, tetapi Allah memberkati amalannya dan memelihara manhaj Ahlus Sunnah hinggakan telah lahir beribu-ribu anak muridnya bertebaran di muka bumi ini dari Negara Arab, Eropah, Afrika, Australia dan juga Asia.
Penulisannya:
Syeikh Abdullah al-Harary sebenarnya tidak mempunyai waktu yang mencukupi untuk mengarang banyak kitab kerana beliau amat sibuk dengan pengajaran dan memperbetulkan akidah-akidah manusia, di samping menentang golongan sesat yang mereka cipta perkara baru dalam agama. Walaubagaimanapun dalam kesibukan itu beliau tetap juga menulis pelbagai karangan dan risalah-risalah antaranya ialah :
1. Syarah Alfiah As-Suyuthi.
2. Qosidah Fil I’tiqodi.
3. As-Shirothul Mustaqiim.
4. Ad-Dalilul Qawim ‘Ala As-Shirothil Mustaqiim.
5. Mukhtasar Abdillah Al-Harary Al-kafil Bi ‘Ilmi Ad-Din Ad-Dharury ‘Ala Mazhabi Asy-Syafii.
6. Mukhtasar Abdillah Al-Harary Al-kafil Bi ‘Ilmi Ad-Din Ad-Dharury ‘Ala Mazhabi Al-Imam Malik
7. Mukhtasar Abdillah Al-Harary Al-kafil Bi ‘Ilmi Ad-Din Ad-Dharury ‘Ala Mazhabi Abi Hanifah.
8. Bughyah At-Tholib li Ma’rifatil Ilmi Ad-Deenil Wajib.
9. At-Ta’aqqub Al-Hatsits ‘Ala Man Tho’ana fi Ma Sohha Minal Hadis.
10. Nashratul Ta’aqqubil Hatsits ‘Ala Man Tho’ana Fima Sohha Minal Hadis
11. Ar- Rawa-ihuz Zakiyyah fi Maulidi Khairil Bariyyah.
12. Syarah Aqidah An- Nasafiyyah.
13. Syarah Al-fiyah Al-Zubad fi fiqhi Asy- Syafii.
14. Syarah Matan Abi Syujaa’ Fi Fiqhi Asy Syafii
15. Syarah As-Shirothil Mustaqiim.
16. Syarah Matnil ‘Ashmawiyyah.
17. Syarah Mutammimah Al-Aa jurumiyah fin Nahu.
18. Syarah Al-Baiquniyyah.
19. Shorihul Bayan fi Roddi ‘Ala Man Khalafal Quran.
20. Al-Maqoolaat As-sunniyyah fi Kasyfi Dhalalaat Ahmad bin Taimiyah.
21. Kitab Ad-Durrin Nadhidi Fi Ahkamit Tajwid.
22. Idzhar Al-‘Aqidah As-Sunniyyah bi Syarah al-‘Aqidah At- Thohawiyah.
23. At-Tahzir al-Wajib
24. Mandzumah “Nasihat At-Thullab”.
25. Risalah Fi Buthlan Da’wa Awwaliyyatil An-Nurul Muhammady.
26. Risalah Fi Roddi ‘ala Qaulil ba’dhi Innar Rasula ya’lamu kulla Syai’in ya’lamuhumullah.
27. Ad-Durarul Bahiyyah Fi Halli Alfadz Al-‘Aqidah At-Tahawiyah.
28. Al-Ghaaratul Imaniyyah Fi Roddi Mafasidi At-Tahriryyah.
29. Syarah Mandzumah As-Shibyan fil ‘Arudh
30. Syarah As-Sifat Ats-Salats ‘Asyarata Al-Wajib Lillah
31. Al’Aqidah Al-Munjiyyah
32. Syarah At-Tanbih
33. Syarah Manhaj At-Tullab.
34. Syarah Kitab Sullamit Taufiq ila Mahabbatillah ‘Ala Tahqiqi Lil Syeikh Abdillah Ba’lawi
Kewafatannya:
Beliau kembali ke Rahmatullah pada fajar hari selasa 2 Ramadhan 1429 Hijrah bersamaan 2 September 2008 Masihi di rumahnya di Beirut pada usia 105 tahun, disembahyangkan oleh jutaan umat Islam di Masjid Burj Abi Haidar Beirut dan di makamkan berdekatannya.
Beliau adalah ulama yang hebat dan dikenali dengan gelaran Al-Muhaddith (ulama pakar Hadith, Syeikhul Islam dan sebagainya dari gelaran yang mulia. Rahimakallahu Ya Syeikh Abdullah Al-Harari.
www.ustaz-rasyiq.blogspot.com
Al Habasyi menurut pandangan Dr Ali Jum'ah
KENYATAAN MUFTI MESIR MENGENAI SYEIKH ABDULLAH AL-HARARI
Soalan:
Assalamualaikum Ustaz, Saya difahamkan Ustaz pernah berguru dengan Syeikh Dr. Ali Jum’ah Mufti Mesir sekarang. Soalan saya, Apakah pandangan Mufti Mesir tersebut mengenai seorang ulama bernama Syeikh Abdullah Al-Harari dan adakah benar kenyataan negative beliau terhadap Syeikh Abdullah Al-Harari yang disiarkan dalam laman web dan buku Wahhabi?
Jawapan:
Wa’alaikumsalam. Terima kasih kerana menghantar soalan. Pertamanya Ya semasa saya di bumi Mesir dahulu sememangnya saya pernah berguru dengan Syeikh Ali Jum’ah Mufti Mesir sejak sebelum beliau dilantik sebagai Mufti Mesir lagi dan sesudah lantikan. Ketika itu beliau mengajar kitab Al-Hikam karangan Ibnu ‘Atoillah As-Sakandary di Masjid Jami’ Al-Azhar di Bandar Hussein Kaherah , Mesir.
Manakala mengenai pandangan Syeikh Dr. Ali Jum’ah Mufti Mesir mengenai Syeikh Abdullah Al-Harari secara jujur dan amanahnya saya katakana seperti berikut:
Pada 12hb April 2009M bersamaan dengan 16 Rabi’ul Akhir 1430H saya (Ustaz Mohd Rasyiq Bin Mohd Alwi) berkesempatan bersama dalam majlis khas dengan Syiekh Dr. Ali Jum’ah pada jam 9.00pagi bertempat di PNB Darby Kuala Lumpur. Perjumpaan itu adalah setelah perjumpaan di Majlis Maulid bersar-besaran di Masjid Negara Kuala Lumpur pada malam sebelumnya 11hb April 2009M.
Pada pagi 12hb tersebut Syeikh Dr. Ali Jum’ah mengatakan dalam Majlis itu:
“ Saya sebenarnya telah mengenali Syeikh Abdullah Al-Harari sebelum kamu semua dilahirkan lagi, pada 50an Syeikh Abdullah Al-Harari telah datang ke bumi Mesir dan ulama dan kami menghormati beliau. Ketika Syeikh Abdullah Al-Harari di bumi Mesir beliau sering bersama Syeikh Abdullah Al-Ghumary dalam majlis muzakarah kitab Al-Jam’ul Jawami’. Demikian juga dijelaskan kepada kami oleh Syeikh Soleh Al-Ja’fary. Syeikh Abdullah Al-Harari merupakan seorang yang alim dan hebat dalam menolak hujjah golongan kotor seperti Wahhabi dan selainnya. Ramai ulama yang memuji kehebatan Syeikh Abdullah Al-Harari dalam ilmunya. Antara yang menukilkan dan memuji perjuangan Syeikh Abdullah Al-Harari adalah Syeikh Sa’id Mamduh setelah mentelaah buku karangan Syeikh Abdullah Al-Harari dalam penolak hujjah terhadap Al-Albani. Saya sendiri melihat pujian Syeikh Sa’id Mamduh terhadap Syeikh Abdullah Al-Harari Rahimahullah. Zaman kini penyelewengan ajaran Wahhabi mendahului ajaran-ajaran yang lain kerana mereka mempunyai kewangan untuk meroksakkan masyarakat Islam yang telah terbina sekian lama dengan mulianya oleh para ulama Ahli Sunnah Wal Jama’ah Al-‘Asya’irah. Kami berpegang bahawa Syeikh Abdullah Al-Harari merupakan seorang ulama Ahli Sunnah Wal Jama’ah yang hebat dan amat mendalami ilmu hadith dan sanadnya. Amatlah berbesar hati dapat bersama dengan anak-anak murid beliau khususnya dalam memartabatkan Ahli Sunnah Wal Jama’ah sebenar di era globaliosasi ini.”
Tamat petikan dan rakaman kenyataan Syeikh Dr. Ali Jum’ah mengenai Syeikhul Islam Syeikh Abdullah Al-Harari Al-Habasyi. Pada 12hb April 2009M bersamaan dengan 16 Rabi’ul Akhir 1430H dihadiri secara rasmi antaranya saya (Ustaz Mohd Rasyiq Bin Mohd Alwi) pada jam 9.00pagi bertempat di PNB Darby Kuala Lumpur. Perjumpaan beberapa tokoh ulama pada hari tersebut turut membincangkan perihal masaalah ummat yang lain.
Saya katakan secara ikhlas dan jujur bahawa disini membuktikan bahawa Syeikh Abdullah merupakan tokoh ulama Ahli Sunnah Wal Jama’ah yang diperakui oleh badan-badan berautoriti dan para ulama Islam.
Manakala nukilan palsu jahat dalam laman website Wahhabi yang menipu daya ulama Islam kononnya Dr. Ali Gumah mengkritik Syeikh Harari adalah tipu daya yang jahat lagi palsu. Manakan tidak. Semasa di bumi Mesir Syeikh Dr. Ali Jum’ah telah mengatakan bahawa: “Saya sebelum ini diberi maklumat tidak sahih mengenai Syeikh Abdullah Al-Harari dan anak-anak murid beliau oleh golongan yang bijak menipu”.
Ketahuilah bahawa nukilan tersebut bukan ditulis oleh Syeikh Dr. Ali Jum’ah tetapi ditulis oleh orang lain dengan memutar-belit beberapa ucapan beliau yang hakikatnya tidak langsung mengutuk Syeikh Abdullah AL-Harari bahkan memuji beliau dan anak-anak murid beliau.
www.ustaz-rasyiq.blogspot.com
Cinta Daripada Pandangan Imam Al-Syafie
Imam Al-Syafie banyak memberi pedoman dalam memilih kawan. Beliau juga mengakui sukar mencari sahabat sejati yang mahu berkongsi suka duka bersama. Ketika menilai sahabat sejati pada waktu susah, katanya:
“Kawan yang tidak dapat dimanfaatkan ketika susah lebih mendekati musuh daripada sebagai kawan.
Tidak ada yang abadi dan tidak ada kawan yang sejati kecuali yang menolong ketika susah.
Sepanjang hidup aku berjuang bersungguh-sungguh mencari sahabat sejati hingga pencarianku melenakanku.
Ku kunjungi seribu negara, namun tidak satu negara pun yang penduduknya berhati manusia".
Imam Al-Syafie turut meminta kita berhati-hati memilih sahabat kerana sahabat yang baik akan membawa ke arah kebaikan dan begitu sebaliknya. Katanya:
“Jika seseorang tidak dapat menjaga nama baiknya kecuali dalam keadaan terpaksa, tinggalkanlah dia dan jangan bersikap belas kasihan kepadanya. Banyak orang lain yang dapat menjadi penggantinya. Berpisah dengannya bererti istirehat.
Dalam hati masih ada kesabaran buat kekasih, meskipun memerlukan daya usaha yang keras. Tidak semua orang yang engkau cintai, mencintaimu dan sikap ramahmu kadangkala dibalas dengan sikap tidak sopan. Jika cinta suci tidak datang daripada tabiatnya, tidak ada gunanya cinta yang dibuat-buat.
Tidak baik bersahabat dengan pengkhianat kerana dia akan mencampakkan cinta setelah dicintai. Dia akan memungkiri jalinan cinta yang terbentuk dan akan menampakkan hal yang dulunya menjadi rahsia.
Seseorang itu juga dapat menundukkan musuhnya dengan menunjukkan rasa persahabatan".
Imam Al-Syafie dalam hal ini berkata:
“Ketika aku menjadi pemaaf dan tidak mempunyai rasa dengki, hatiku lega, jiwaku bebas daripada bara permusuhan.
Ketika musuhku berada di hadapanku, aku sentiasa menghormatinya. Semua itu kulakukan agar aku dapat menjaga diriku daripada kejahatan.
Aku nampakkan keramahan, kesopanan dan rasa persahabatanku kepada orang yang kubenci, seperti aku nampakkan hal itu kepada orang yang kucintai.”
Kasih Ibu.....
Semasa kita berumur 1 tahun, Ibu menyuap kita makan dan memandikan kita. Kita membalas budinya dengan menangis sepanjang malam.
Semasa kita berumur 3 tahun, Ibu menyiapkan makanan istimewa dan berzat untuk kita. Kita membalas budinya dengan menumpahkan makanan ke atas lantai.
Semasa kita berumur 4 tahun, Ibu membelikan kita crayon. Kita membalas budinya dengan menconteng dinding di rumah.
Semasa kita berumur 5 tahun, Ibu membelikan kita baju baru untuk Hari Raya. Kita membalas budinya dengan mengotorkan baju apabila jatuh ke dalam lopak.
Apabila kita berumur 7 tahun, Ibu menghantar kita ke sekolah. Kita membalas budinya dengan menjerit, "SAYA TAK MAHU PERGI SEKOLAH."
Semasa kita berumur 10 tahun, Ibu menghantar kita ke kelas tuisyen, membawa kita shopping, menghantar kita ke rumah kawan dan sebagainya. Kita tidak langsung menoleh ke belakang dan mengucapkan terima kasih, setiap kali Ibu menghantar kita.
Apabila kita berumur 11 tahun, Ibu membelikan kita sebiji bola sepak. Kita membalas budi Ibu, dengan menendang bola dan memecahkan cermin tingkap rumah jiran kita.
Semasa kita berumur 12 tahun, Ibu menasihatkan kita supaya tidak terlalu banyak menonton TV. Kita membalas budi Ibu dengan asyik menonton TV, sebaik sahaja Ibu keluar dari rumah.
Apabila kita berumur 13 tahun, Ibu menegur fesyen rambut kita yang kurang sopan. Kita membalas budi Ibu dengan berkata bahawa Ibu tak ada "TASTE."
Apabila kita berumur 16 tahun, Ibu inginkan dakapan setelah penat dan baru balik bekerja sehari suntuk. Kita membalas budinya dengan mengunci diri kita dan bersendirian di dalam bilik.
Apabila kita berumur 17 tahun dan lulus peperiksaan, Ibu menangis gembira. Kita membalas budi Ibu dengan tidak balik ke rumah hingga larut malam, kerana enjoy & celebrate dengan kawan-kawan.
Apabila kita berumur 19 tahun Ibu membelanjakan wang yang banyak untuk menghantar kita ke universiti, mengangkat beg kita dengan kasih sayang, sampai ke hostel kita. Kita membalas budi Ibu, dengan bersalaman dengan Ibu di luar dorm, takut malu dilihat kawan-kawan.
Apabila kita berumur 20 tahun, Ibu bertanya dengan rasa prihatin kita ada boyfriend/girlfriend ke? Kita membalas budi Ibu dengan berkata --- " Ibu ni kepohlah!!"
Apabila kita berumur 21 tahun, Ibu bertanya apa cita-cita kita. Kita membalas budi Ibu dengan berkata, "saya tak mahu jadi macam ibu!!"
Apabila kita berumur 23 tahun, kita mendapat kerja yang pertama dan tinggal dirumah sendiri - Ibu membelikan baju untuk kita memulakan kerja baru. Kita membalas budi Ibu dengan memberitahu kawan-kawan bahawa baju itu tidak cantik kerana Ibu yang belikan.
Apabila kita berumur 25 tahun, kita berumahtangga - Ibu menangis gembira dan berkata betapa Ibu kasih dan sayang pada kita. Kita membalas budi Ibu dengan berpindah 300 kilometer jauh dari Ibu.
Apabila kita berumur 27 tahun, Ibu menelefon dan memberi nasihat tentang penjagaan bayi, anak kita. Kita membalas budi Ibu dengan berkata, "Zaman sekarang lain Ibu..!!!!"
Apabila kita berumur 40 tahun, Ibu menelefon dan memaklumkan majlis kenduri di kampung. Kita membalas budi Ibu, dengan berkata - "saya sibuk!!!!"
Apabila kita berumur 50 tahun, Ibu jatuh sakit dan perlukan penjagaan dan kasih sayang. Kita membalas budi Ibu dengan datang melawat Ibu sekali dengan membawa sedikit buah apple dan merungut tentang kesibukan bekerja dan terpaksa balik segera.
Dan kemudian, pada suatu hari, Ibu meninggal dunia. Dan tidaklah kita sempat untuk membalas segala jasa-jasa Ibu. Ingat, selagi Ibu masih hidup, kasihi dan sayangilah Ibu dan jika Ibu sudah meninggal dunia, ingatlah jasa ibu.

